HELLO this is us speaking.
REPORT FROM MONUMEN NASIONAL

(2/11) MONAS, JAKARTA. Kedua reporter ThinkPokari sebelumnya agak sedikit terlambat sampai di TKP karena harus menghadapi pasar tumpah di Kwitang dan mengharuskan mereka memutar gang sambil mengabaikan teriakan-teriakan menggoda dari para penjaja dagangan. Akhirnya mereka sampai di lapangan parkir IRTI Monas—sesuai yang diumumkan di
rumahblogger.com—yang menjadi titik penting pertemuan para pejurnal digital yang tergabung dalam forum
RumahBlogger. Namun sampai di sana reporter kebingungan! Di siang yang terik lagi-lagi mereka tidak bisa menemukan sosok kribo legendaris blogger, Bena. Reporter yang kehilangan kompas pun mengelilingi Monas satu putaran, berharap bisa menemukan tanda-tanda para blogger. Namun yang mereka dapati hanyalah sekerumunan makhluk berbaju hijau seragam dengan tulisan Anlene. Wew, ternyata ada gerak jalan dan para reporter mendapat saingan yang juga reporter lain dari berbagai TV (ciye, berasa kopdar bakal diliput TV beneran aja nih hahaha)
Lelah mencari kesana kemari, reporter the A pun berintuisi bahwa para blogger pastilah masih menunggu di lapangan parkir. Dan benar saja! Aura-aura dunia virtual pun makin pekat tercium, ternyata para blogger masih menunggu beberapa blogger lain yang kebetulan belom dateng. Langsung saja laporan pandangan mata dari para reporter kita, the A dan the P.
Terima kasih, saudara moderator. Pembaca sekalian, Monas dengan cuaca yang sangat cihuy di tengah-tengah musim penghujan nampaknya tidak melunturkan semangat kami untuk saling bertemu sapa dengan para pejurnal virtual di lapangan iertei Monas ini. Meskipun sebelum ini kami sempat menjamah bujursangkar Monas sebanyak satu putaran—dan tidak menemukan siapa-siapa di sana kecuali pasukan gerak jalan Anlene—kami pun akhirnya kembali ke tempat pertemuan awal dan menemukan beberapa blogger nangkring di sana.
Dan
kepala suku (baca: Bena) memutuskan untuk mengajak blogger yang lain mengisi perut di tenda makanan dekat situ. Kami pun dengan biadab memesan menu-menu yang disajikan (disamping juga abang-abang jualannya terlalu bersemangat menawarkan), semua baik-baik saja sampai kami meletakkan suapan terakhir dan siap membayar.
“Nasi goreng berapa bu?”
“DUA PULUH RIBU NENG!”
(eh kok ibunya kayak teriak gitu sih, kagak lah)
APAAAAAAAA???!!! AH YANG BENAR SAJA IBUNDA, LEBIH BAIK SAYA DURHAKA SELAMA INI. EMANG SENDOKNYA DARI EMAS YA?! *syok tiada terperi*
Miris menatap dompet, kedua reporter kami pun menyerahkan lembaran ijo pada induk tenda. Weeh gilak bener, untung kami gak pesen tehbotol kayak
Bena. Nyahaha, jatuhnya sangat mahahahahahal. <-ketawa syok Saking syoknya, reporter the P pun sampe curhat ama kuda.

“Eh eh eh lo enak ya makan rumput seiket gratis ngambil dari kebon, coba lo sekali-kali makan nasi goreng di tenda itu deh...” <-dengan suara merana Kami pun melanjutkan perjalanan, karena siang makin biadab, kami memutuskan untuk ngadem di bawah pohon. Sebenarnya bukan itu alasan utamanya, tapi karena ada abang-abang yang terlalu kreatif jualan gabus yang kalo ditiup bunyinya mirip bayi sawan (ini kata blogger
Ferdian), para blogger pun menganggap ini tren yang patut dipopulerkan. Sambil merogoh kocek sebesar IDR 1000 saja (belagu bener pake IDR berasa turis), mereka mulai mengisi udara dengan suara bayi sawan yang membahana.

“oekkkkkkk” <-kok jadi kayak muntah... Abis itu para blogger memutuskan untuk naek kereta wisata, lumayan bisa keliling-keliling
padahal males jalan panas-panas hahahaha, satu gerbong pun mendadak ekslusif dengan semua penumpangnya para blogger. (asek bener dah eksklusip)

“hayo semua kencangkan sabuk pengaman, saya yang nyetir hihihih”

“apakah kami akan sampai dengan selamat? *khawatir*”

“WETS gaya pol bener bang nyehahaha”

“yah, abis.. apa daya kita kan mau minta gratisan...”

“WINDOW VIEW: yo mamen, yo!” *padahal siapa juga gatau*
Turun dari kereta wisata, kami sempet foto-foto dan sempat punya ide gila untuk kayang massal (BLOGGERS LOVE KAYANG), tapi karna pavingblok panasnya ngelebihin pantat penggorengan, kami pun hanya berfoto dengan pose normal.
(sori belom sempet nyolong sana-sini hehehehe)
Terik matahari pun dengan suksesnya menggoreng ubun-ubun kami hingga kami memutuskan untuk mengadakan acara puncak: perundingan kepengurusan RumahBlogger. Ngomongin korwil-korwil untuk Jaktim, Jabar, Jakpus, Jaksel, dll. Biar ngumpulnya gampang, untuk lebih lengkapnya maen-maen aja ke
rumah blogger.
“kop-dar-ru-mah-blog-ger *dieja*”

“
Patung Pancoran dengan laptop gaul yang kami curigai sedang melakukan liveblogging hehehe”
Sesi perundingan pun ditutup dengan perkenalan blogger satu persatu. Kami pun menggumam-gumam, “oh ternyata si Anu yang blognya Itu” bla bla bla. Sungguh menyenangkan hehehe. Lalu hari semakin sore, gagak-gagak bernyanyi *nggak sih* dan kami beranjak sekali lagi untuk memutari Monas mencari gerbang pulang, karena kereta wisatanya penuh abitch. Kami pun mengobrol dengan beberapa blogger yang lain, salah satunya blogger
Beryl, the A pun bertukar nomer hengfong untuk janjian bersamanya pergi ke pesta blogger 2008 dikarenakan the P nampaknya tidak akan menghadiri event asoy tersebut karena sudah harus hijrah ke benua lain.
Beberapa foto terakhir,

“time to go hoooome”

“sumpah the P hampir kejepit di sini, wew”
Salam kopi darat,
The A dan The P